Kakak dan Penutup Telinga

Oleh: Nur Rizka Alfira Husna (XI IPA 1)
Aku mendesah, menatapnya yang tersenyum lebar.

“Baiklah, Ina, aku pulang ya,” pamitnya.

Aku tersenyum. “Iya, makasih ya. Hati-hati ya, Bang,”

Ia membalasku dengan lambaian tangan. Sejurus kemudian, punggungnya menghadapku. Lalu motornya pun mulai menjauh. Aku tidak melepaskan pandanganku darinya. Tidak sedikit pun.Hinga tiba-tiba, seseorang mencolek bahuku. Aku menoleh.

“Pacarmu?”

Aku menggeleng. “Bukan,”

“Kekasihmu?”

“Hei, apa bedanya dengan pertanyaan sebelumnya?”

“Lalu?”

Aku menarik napas panjang. “Kenapa, sih? Kepo, ya?”

Wanita ini memelototiku tajam, menggambarkan kata-kata ‘cepat-beri-tahu-atau-tidak-ada-jatah-makan-malam-untukmu’. Ini tidak adil. Masa ia ingin mengurangi jatah makanku? Ia kan, tahu aku tidak bisa tidur dengan perut kosong. Aku hanya menumpuknya dengan tas kecilku pelan. Ia tertawa terbahak-bahak.

“Dia seniorku di organisasi sekolah dan Cuma mengantarku pulang.”

“Oh.”

Hei, kau barusan mengancamku dengan mengurangi jatah makan malam dan hanya merespon ‘oh’? Aku baru menyadari kalau dunia ini keren sekali.

“Kakak tidak bertanya lebih?” aku mengerutkan kening. “Kakak! Seharusnya Kakak marah melihatku berboncengan dengan laki-laki!”

Kakak berfikir. “Seharusnya seperti itu ya?”

Aku mengangguk.

Kakak menunjuk hidungku. Aku tahu hidungku ini pesek, tapi tidak perlu ditekan begitu. Tidak akan membuatnya macung lima senti.

“Kalau begitu masuk lah.” Kakakku membuka pintu gerbang rumah kami. “Aku mengenalmu sejak kau lahir. Kau tidak akan berbuat yang nyeleneh, kan?”

“Seperti…?”

Kakak menjitakku pelan. “Pacaran,”

xxxx

Tok! Tok!

“Kau bukakan pintu,”

Aku menggeliat di meja makan. “Malas. Kakak saja,”

Kakak menatapku tajam. “Cepat bukakan. Aku sedang memotong ikan,”

“Iya,”

Aku menyeret kakiku ke pintu depan. Tamu yang tidak tahu jam berapa harus bertamu. Sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam. Ketika aku menekan gagang pintu dan pintu terbuka, aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat.

“Kau –”

Kakak yang muncul di belakangku, membawakan secangkir minuman menjatuhkan minumannya.

Wanita paruh baya itu tersenyum tertahan. Ia menguncupkan payungnya. “Kalian…. baik-baik saja, kan?”

xxxx

“Ah,seharusnya ibu tidak bertamu malam ini,” ibu berkata setelah meniup-niup teh hangat yang kakak sajikan. “Tapi tidak ada tempat berteduh dari hujan selain rumah kalian.

Kami terdiam.

“Sari, Ina…” ia memanggil lirih. “Ibu menginap malam ini ya?

xxxx

“Ibu sudah bercerai,” ucapnya. Seenaknya.

Ekspresi kakak berubah, ia menggigit bibir. “Ibu… sudah berhenti, kan?”

Ibu menunduk, “Maaf, terjadi lagi dan ayahmu tidak tahan, ia menggungat ceraiku.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Kakak pun begitu.

“Pulanglah,” pinta ibu.

xxxx

Saat masih kelas 3 SMP, Ibu dan ayah sudah biasa bertengkar.

“KAU KENAPA SEPERTI ITU, HAH?”

“SEPERTI APA?”

“KENAPA KAU PULANG KERUMAH ‘DIA’?”

“HEI, DIA ITU SIAPA?”

“ISTRI MUDAMU,”

Aku saat itu hanya menangis, bersembunyi di balik pintu. Aku tidak tahu apa yang mereka ributkan. Tapi tiba-tiba, Kakak datang, menggedor-gedor pintuku yang terkuci. Ia datang dengan berlinangan air mata, aku ingat jelas itu. Aku terpaku melihatnya.

“Jangan tertawakan aku. Aku hanya ingin menangis sebentar,”

Aku tidak berkata apa-apa. Dan ketika suasana mulai hening, maksudku benar-benar hening karena ayah dan ibu selesai adu mulut. Kakak menarik tanganku. Menggenggamnya kuat sekali. Aku tidak tahu apa maksudnya.

“Hei,” panggilnya. “Jadikan aku penutup telingamu, ya?”

Keesokkan harinya, kakak berbicara dengan ibuku. Empat mata saja. Tapi aku yang terbangun karena haus, tidak sengaja mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Aku ingin mengajak Ina juga,”

“Kenapa?” tanya ibu dengan suara tinggi. “Kenapa kalian ingin meninggalkan ibu?”

“Tidak,” Kakak merespon. “Kami hanya ingin sekolah di daerah luar. Kakak sudah mendaftar di universitas Y dan  Kakak juga sudah mendaftarkannya di SMA daerah sana.”

“TIDAK BOLEH!”

“Tapi kami lulus,”

Ibu hanya diam tak menjawab. Setelah lama hening, ibu menjawab. “Baiklah,”

xxxx

Kami menatap mata ibu.

Kakak menghela napas panjang. “Tidak Mungkin kami pulang. Kami belum menyelesaikan sekolah kami. Bagaimana kalau setelah lulus?”

Ibu tersenyum. “Baiklah.”

Malam itu, seseorang menggedor pintu rumah kami.

Ketika aku melangkah mendekati pintu, kakak menahanku. Ia hanya tersenyum. Senyuman yang agak berbeda. Aku tidak bisa menangkap makna senyumannya. Ia hanya menghela napas.

“Ibu berhutang lagi,” katanya.

Aku menatapnya. “Kau sudah dengar, kan, kalau ibu tertipu investasi bodong? Rumah kita punya banyak barang berpajak besar. Itulah penyebab ayah menikah lagi dengan wanita kaya raya. Tapi hanya ibu yang lari dari kenyataan itu dan berbalik menyalahkan ayah.”

Aku tidak mampu berkata-kata. Pikiranku tidak dapat mengerti apa yang kakak katakan. Aku melihat ibu yang menangis di sudut ruangan sana.

“Aku akan jadi penutup telingamu,” ucap kakak sebelum membuka gagang pintu.

xxxx

Kakakku penutup telinga yang baik. Ia berbohong. Soal kuliahnya. Ia bekerja mati-matian melunasi hutang ibu. Ia membungkus keringatnya dengan kata ‘kuliah’. Sebuah koran memuat berita tentangnya. Tepat pada Minggu, 30 April 2017. Seorang TKW  dihukum mati.

Rate this article!
Kakak dan Penutup Telinga,0 / 5 ( 0votes )
Tags:
author

Author: